PENDAHULUAN

Charter Audit Internal merupakan dokumen yang secara formal mengakui pembentukan suatu fungsi internal audit. Dokumen ini juga secara formal menyatakan tujuan dan misi yang akan dicapai oleh Satuan Audit Internal.

Charter dapat dipandang sebagai kontrak antara Satuan Audit Internal dengan Rektor Universitas Islam Sultan Agung dan Ketua Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung, yang memberi wewenang kepada Satuan Audit Internal untuk memulai pekerjaan Auditing di Universitas Islam Sultan Agung.

Charter Audit menetapkan hak kepala Satuan Audit Internal dan para staf auditor untuk memeriksa setiap bagian di Universitas Islam Sultan Agung dan melihat berbagai asset dan dokumen Universitas Islam Sultan Agung.

Dengan adanya Charter Audit Internal ini, diharapkan keberadaan Satuan Audit Internal dalam menjalankan fungsi auditing tidak dianggap sebagai musuh oleh setiap bagian di Universitas Islam Sultan Agung, melainkan sebagai mitra yang baik untuk saling mengingatkan dalam rangka meningkatkan kinerja yang lebih baik, sebagai wujud pengabdian pada umat yang di ridloi Allah SWT.



STANDAR PROFESI AUDIT INTERNAL

  1. Independensi dan Objektivitas
  2. Fungsi audit internal harus independen, dan auditor internal harus obyektif dalam melaksanakan pekerjaanya.

    • Independensi Organisasi
      Fungsi audit internal harus di tempatkan pada posisi yang memungkinkan fungsi tersebut memenuhi tanggungjawabnya. Independensi akan meningkat jika fungsi audit internal memiliki akses komunikasi yang memadai terhadap pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi.
    • Objektivitas Auditor Internal
      Auditor internal harus memiliki sikap mental yang obyektif, tidak memihak dan menghindari kemungkinan timbulnya pertentangan kepentingan (conflict of interest).
    • Kendala Terhadap Prinsip Independensi dan Obyektivitas
      Jika prinsip independensi dan obyektivitas tidak dapat di capai baik secara fakta maupun dalam kesan, hal ini harus di ungkapkan kepada pihak yang berwenang. Teknis dan rincian dan pengungkapan ini tergantung kepada alasan tidak terpenuhinya prinsip independensi dan obyektivitas tersebut.

  3. Keahlian dan Kecermatan Profesional
  4. Penugasan harus dilaksanakan dengan memperhatikan keahlian dan kecermatan profesional.

    • Keahlian
      Auditor internal harus memiliki pengetahuan, ketrampilan, dam kompetensi lainya yang di butuhkan untuk melaksanakan tanggungjawab perorangan. Fungsi audit internal secara kolektif harus memiliki atau memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dam kompetensi lainya yang di butuhkan untuk melaksanakan tanggungjawabnya.
      Penanggungjawab Fungsi Audit Internal harus memperoleh saran dan asistensi dari pihak yang berkompeten jika pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi dari staff auditor internal tidak memadahi untuk melaksanakan sebagian atau seluruh penugasannya.
      Auditor Internal harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti, dan menguji adanya indikasi kecurangan. Fungsi Auditor Internal secara kolekti harus memiliki pengetahuan tentang resiko dan pengendalian yang penting dalam bidang teknologi informasi dan teknik-teknik audit berbasis teknologi informasi yang tersedia.
    • Kecermatan Profesional
      Auditor Internal harus menerapkan kecermatan dan ketrampilan yang layaknya dilakukan oleh seorang auditor internal yang prudent dan kompeten. Dalam menerapkan kecermatan profesional auditor internal perlu mempertimbangkan :
      • Ruang lingkup penugasan.
      • Kompleksitas dam materialitas yang di cakup dalam penugasan.
      • Kecukupan dan efektivitas manajemen resiko, pengendalian, dan proses governance.
      • Biaya dan manfaat penggunaan sumber daya dalam penugasan.
      • Penggunaan teknik-teknik audit berbantuan komputer dan teknik-teknik analisis lainya.

  5. Lingkup Penugasan
  6. Fungsi audit internal melakukan evaluasi dan memberikan konstribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan resiko, pengendalian, dan governance, dengan menggunakan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh.

    • Pengelolaan Resiko
      Fungsi Audit Internal harus membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi resiko signifikan dan memberikan konstribusi terhadap peningkatan pengelolaan resiko dan sistem pengendalian intern
    • Pengendalian
      Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian intern yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisiensi dan efektivitas pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian intern secara berkesinambungan.
      Berdasarkan hasil penilaian resiko, fungsi audit internal harus mengevaluasi kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian intern, yang mencakup governance, kegiatan operasi dan sistem informasi organisasi. Evaluasi sistem pengendalian intern harus mencakup :
      • Efektivitas dan efisiensi kegiatan operasi.
      • Keandalan dan integritas informasi.
      • Kepatuhan terhadap peraturan peundang-undangan yang berlaku.
      • Pengamanan aset organisasi.
      Fungsi audit internal harus memastikan sampai sejauh mana sasaran dan tujuan program serta kegiatan operasi telah ditetapkan dan sejalan dengan sasaran dan tujuan organisasi. Auditor internal harus mereviu kegiatan oprasi dan program untuk memastikan sampai sejauh mana hasil-hasil yang diperoleh konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Untuk mengevaluasi sistem pengendalian intern diperlukan kriteria yang memadai.
    • Proses Governance
      Fungsi audit internal harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses governance dalam mencapai tujuan-tujuan berikut :
      • Mengembangkan etika dan nilai-nilai yang memadai di dalam organisasi.
      • Memastikan pengelolaan kinerja organisasi yang efektif dan akuntabilitas.
      • Secara efektif mengkomunikasikan kegiatan dari, dan mengkomunikasikan informasi diantara, pimpinan, dewan pengawas, auditor internal dan eksternal serta manajemen.
      Fungsi audit internal harus mengevaluasi rancangan, implementasi dan efektivitas dari kegiatan program dan sasaran organisasi yang berhubungan dengan etika organisasi.

  7. Perencanaan Penugasan
  8. Auditor internal harus mengembangkan dan mendokumentasikan rencana untuk setiap penugasan yang mencakup ruang lingkup, sasaran, waktu dan alokasi sumberdaya.

    • Dalam merencanakan penugasan, auditor internal harus mempertimbangkan :
      • Sasaran dari kegiatan yang sedang direviu dan mikanisme yang digunakankegiatan tersebut dalam mengendalikan kinerjanya.
      • Resiko signifikan atas kegiatan, sasaran, sumberdaya, dan operasi yang di reviu serta pengendalian yang diperlukan untuk menekan dampak resiko ketingkat yang dapat diterima oleh organisasi.
      • Kecukupan dan efektivitas pengelolaan resiko dan sistem pengendalian intern.
      • Peluang yang signifikan untuk meningkatkan pengelolaan resiko dan sistem pengendalian intern.
    • Sasaran Penugasan
      Sasaran untuk setiap penugasan harus ditetapkan.
    • Ruang Lingkup Penugasan
      Agar sasaran penugasan tercapai maka Fungsi Audit Internal harus menentukan ruang lingkp penugasan yang memadai.
    • Alokasi Sumberdaya Penugasan
      Auditor internal harus menentukan sumberdaya yang sesuai untuk mencapai sasaran penugasan. Penugasan staf harus didasarkan pada evaluasi atas sifat dan kompleksitas penugasan, keterbatasan waku, dan ketersediaan sumberdaya.
    • Program Kerja Penugasan
      Auditor internal harus menyusun dan mendokumentasikan program kerja dalam rangka mencapai sasaran penugasan. Program kerja harus menetapkan prosedur untuk mengidentivikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi selama penugasan. Program kerja ini harus memperoleh persetujuan sebelum dilaksanakan. Perubahan atau penyesuaian atas program kerja harus segera mendapat persetujuan.

  9. Pelaksanaan Audit
  10. Dalam melaksanakan audit, auditor internal harus mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan.

    • Mengidentifikasi Informasi
      Auditor internal harus mengidentifikasi informasi yang memadai, handal, relevan, dan berguna untuk mencapai sasaran penugasan.
    • Analisis dan evaluasi
      Auditor internal harus mendasarkan kesimpulan dan hasil penugasan pada analisis dan evaluasi yang tepat.
    • Dokumentasi Informasi
      Auditor internal harus mendokumentasikan informasi yang relevan untuk mendukung kesimpulan dan hasil penugasan.
    • Supervisi Penugasan
      Setiap penugasan harus disupervisi dengan tepat untuk memastikan tercapainya sasaran, tejaminya kualitas, dan meningkatnya kemampuan staf.

  11. Pelaporan
  12. Auditor internal harus mengkomunikasikan hasil penugasannya secara tepat waktu.

    • Kriteria Komunikasi
      Komunikasi harus mencakup sasaran dan lingkup penugasan, simpulan, rekomendaasi, dan rencana tindakan selanjutnya. Komunikasi akhir hasil penugasan, bila memungkinkan memuat opini keseluruhan dan kesimpulan auditor internal. Auditor internal perlu memberikan apresiasi, dalam komunikasi hasil penugasan, terhadap kinerja yang memuaskan dari kegiatan yang direviu. Bilamana hasil penugasan disampaikan kepada pihak di luar organisasi, maka pihak yang berwenang harus menetapkan pembatasan dalam distribusi dan penggunaanya.
    • Kualitas Komunikasi
      Komunikasi yang disampaikan baik tertulis maupun lisan harus akurat, obyektif, jelas, ringkas, konstruktif, lengkap, dan tepat waktu. Jika komunikasi final mengandung kesalahan dan kealpaan, penanggungjawab fungsi audit internal harus mengkomunikasikan informasi yang telah dikoreksi kepada semua pihak yang telah menerima komunikasi sebelumnya.
    • Pengungkapan Atas Ketidakpatuhan Terhadap Standar
      Dalam hal terdapat ketidakpatuhan terhadap standar yang mempengaruhi penugasan tertentu, komunikasi hasil-hasail penugasan harus mengungkapkan :
      • Standar yang tidak dipatuhi
      • Alasan ketidakpatuhan
      • Dampak dari ketidakpatuhan terhadap penugasan.
    • Penyampaian Hasil-hasil Penugasan
      Penanggungjawab fungsi audit internal harus mengkomunikasikan hasil penugasan kepada pihak yang berhak.

  13. Pemantauan Tindak Lanjut
  14. Penanggungjawab fungsi audit internal harus menyusun dan menjaga sistem untuk memantau tindak-lanjut hasil penugasan yang telah dikomunikasikan kepada manajemen. Penanggungjawab fungsi audit internal harus menyusun prosedur tindak lanjut untuk memantau dan memastikan bahwa manajemen telah melaksakan tindak lanjut secara efektif, atau menanggung resiko karena tidak melakukan tindak lanjut.

PENUTUP

Charter Audit Internal Satuan Audit Internal Universitas Islam Sultan Agung ini berlaku efektif mulai tanggal 01 Agustus 2014.

Hal itu berarti semua kegiatan Satuan Audit Internal yang terkait dengan audit, sejak tanggal tersebut wajib mematuhi dan berbasis pada Charter Audit Internal ini, termasuk kewenangan yang dimiliki Satuan Audit Internal.

Rektor secara periodik minimal sekali dalam 4 (empat) tahun membentuk tim yang bertugas untuk mengevaluasi dan menyempurnakan kembali Charter Audit Internal Satuan Audit Internal ini.